Kamis, 21 Agustus 2008

TANGGUNG JAWAB SEBAGAI HADIAH

Jika siswa meraih suatu prestasi maka akan diberi hadiah yang dapat memotivasi dirinya untuk meningkatkan prestasi tersebut. Hadiah itu seperti, memberikan pujian, memberiksn A plus dan sebagainya. Tetapi jika mahasiswa meraih segenggam prestasi apakah yang patut diberikan untuk memotivasi diri mahasiswa?

Sebuah tanggung jawab dapat menjadi penghargaan bagi mahasiswa. Sesuai dengan namanya, “maha” maka tanggung jawab yang diberikan juga lebih besar. Mulai dari tanggung jawab pribadi hingga tanggungjawab terhadap masyarakat. Seperti yang tercantum dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Dalam hal ini jangan memandang tanggungjawab sebagai beban. Mahasiswa secara bertahap dapat melakukan hal sekecil apapun demi perubahan. Pastinya ke arah yang lebih baik dan bermanfaat. Sebagai agent of change mahasiswa diharapkan mengetahui keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat. Kepedulian mahasiswa akan menjadi denyut jantung bagi masyarakat jika mahasiswa memperlihatkan kepeduliannya.

Sayangnya kepedulian sebagian mahasiswa tergolong rendah dibanding ego mereka. Mereka akan memilih bergulat dengan keingingan hidup bebas dan santai dibanding menjalani kehidupan yang formal-formal. Seperti fenomena belakangan ini, di saat ribuan korban bencana alam membutuhkan belai kasih. Ternyata ada sekelompok mahasiswa lebih memilih merancang liburan. Di saat ada tawaran menjadi sukarelawan untuk membantu korban di tenda pengungsian, masih ada mahasiswa yang malah memilih berhura-hura dengan teman sejawat dan tidur-tiduran menikmati waktu senggangnya.

Melihat keadaan ini, terlihat jelas kepedulian mahasiswa sangat kurang. Mahasiswa sebagai pengontrol terhadap ketimpangan dikalangan masyarakat tidak lagi menjadi sesuatu yang sakral. Justru mahasiswa yang mulai melakukan penyimpangan terhadap tugas dan tanggungjawab mereka masing-masing.

Mahasiswa yang diharapkan dapat menyelesaikan masalah di kalangan masyarakat. Namun realita yang terjadi hanya sekedar bayang dan harapan semu masyarakat. Tidak jarang pula mahasiswa yang membuat rusuh masyarakat. Tindakan mereka yang tidak senonoh, amoral dan liar merusak citra mahasiswa dikalangan masyarakat. Padahal mayarakat menanti pemikiran-pemikiran dan menunggu sumbangan pergerakan dari mahasiswa untuk bangsanya sendiri.

Mahasiswa sebagai masyarakat intelektual tidak lagi duduk pada posisinya. Kedudukan yang hanya sebatas penghargaan. Lambat laun kedudukan tersebut akan mati, karena mahasiswa terlena dengan ketenaran, jabatan dan kemewahan. Dengan tawaran tersebut mahasiswa akan semakin dilema.

Bukan itu saja, dalam hal akademik pun mahasiswa memiliki tanggungjawab. Persemesternya ada 24 SKS yang akan menjadi tanggung jawab mahasiswa. Dalam jumlah SKS itulah mahasiswa mengembangkan dan menyerap ilmu pengetahuan sesuai bidang masing-masing. Dan mahasiswa diharapkan dapat memanfaatkan ilmu tersebut untuk kemajuan masyarakat. Sekaligus melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ketiga.

Namun jika perhatikan, dalam hal akademikpun mahasiswa masih lengah. Mahasiswa lebih tertarik kepada bidang rekreasi, hiburan dan permainan. Alasan sebagian mereka mengikuti kuliah hanya menunggu ijazah dengan tujuan meraih cita-cita dan mencari uang. Tanpa mereka memikirkan apa yang dapat mereka lakukan untuk masyarakat.

Jika fenomena ini terus berkanjut, apakah kita baik mahassiwa maupun masyarakat umum memiliki contekan masa depan? Apakah yang akan terjadi pada bangsa kita, jika tonggak penopang tidak di fungsikan lagi.

Jika siswa bangga bila diberi penghargaan kenapa mahasiswa malah mengabaikan penghargaan tersebut. Rasanya tanggung jawab adalah hal terbaik diberikan pada mahasiswa agar mahassiwa dapat menjalani hidup mereka sesuai fungsi mereka. Ataukah mahassiwa sebagai kaum intelektual (mahasiswa_red) hanya sebagai pengisi buku surve di negara kita.

Senin, 04 Agustus 2008

KOLEKSI

Koleksi merupakan kata yang sering digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita mengumpulkan barang-barang antik kita menyebutnya koleksi. Ketika kita sibuk membeli dan membaca buku kita menyebutnya koleksi. Dan ketika kita mengumpulkan hasil karya kita, kita juga menyebutnya sebagai barang koleksi. Namun, koleksi seseorang bukan saja karena hobi tapi juga karena barang yang dikumpulkan itu berhubungan dengan studi penelitian. Seperti koleksi kupu-kupu, koleksi bebatuan, koleksi dedaunan dan lain-lain.
Biasanya, terhadap barang koleksi kita selalu merawatnya dengan hati-hati. Apalagi diantara barang koleksi itu ada sang juaranya. Sang juara akan diperlakukan lebih khusus lagi. Biasanya diletakkan pada tempat yang menjadi fokus penglihatan biar lebih leluasa melihat koleksi kita.
Berdasarkan KBBI, koleksi adalah kumpulan gambar, benda bersejarah, lukisan dan lain-lain yang sering dikaitkan dengan minat atau hobi. Koleksi akan menjadi sesuatu yang menyenangkan dan bermanfaat. Namun, ada pula koleksi yang sudah lepas dari manfaat dan bergeser dari fungsinya. Koleksi yang dikumpulkan terkadang ada yang kurang wajar. Bahkan jika dilihat dari sisi kita sebagai penilai, tidak ada keuntungannya. Malah mubazir. Seperti selebritis di Negara kita yang hobi mengumpulkan barang-barang aneh sekaligus mahal. Seperti Sandra dewi yang mengoleksi struk belanjaannya. Sandra Dewi belum bisa tidur sebelum memegang koleksi struk belanjaan tersebut.
Lain lagi Talitha Latief yang hobi mengoleksi sepatu. Sepatunya ada dari berbagai jenis harga dan ada pula yang didapatnya di luar negeri. Dan Chicco Jericho yang hobi koleksi pernak pernik, terutama Supermen.
Demi kepuasan batin, mereka rela mengorbankan uang dan waktu mereka untuk koleksi mereka. Bahkan sampai melupakan orang lain yang lebih membutuhkan perhatian dan uluran tangannya demi mencari sesuap nasi untuk mengisi perutnya yang hampir kosong selama dua hari. Jika fenomenanya seperti itu, dimana sebenarnya kemanusiaan seorang kolektor yang begitu terkesan mubazir. Kalau mereka melihat dan ingat bagaimana saudaranya di tempat lain? Apakah yang akan mereka lakukan?
Memang, mengkoleksi barang kesukaan yang sesuai dengan minat dan hobi bisa membuat kita kosentrasi dalam bekerja dan juga bisa dengan sendirinya akan memberi inspirasi. Hal itu bisa dimaklumi karena manusia akan menjadi lebih baik jika ditemani barang-barang kesayangannya. Barang-barang kesayangan tersebut dapat membantu untuk mengolah pikiran untuk melakukan hal lain.
Tapi ada baiknya, untuk mengoleksi sesuatu dipikirkan dulu apa manfaat dan ruginya. Barang koleksian yang banyak manfaatnya bagi orang lain, itu akan terasa lebih indah. Dan coba renungkan, buat apa kita mengkoleksi barang yang tidak ada gunanya dan malah menimbulkan kerugian.
Kolektor yang memberikan contoh yang baik adalah salah satu tokoh bangsa kita, yaitu Bung Hatta yang hobi koleksi buku. Sehingga beliau bisa mendirikan perpustakaan pribadi. Dari perpustakaan itu ia bisa mengintip dunia dan mempelajarinya. Perpustakaan tersebut tidak hanya digunakan secara pribadi namun anak-anaknya juga bisa memanfaatkan koleksinya. Namun, sejak kepergian beliau menghadap sang pencipta, tidak saja anak, cucu, keluarga lain dan pembantunya yang menikmati koleksi perpustakaan Bung Hatta. Tapi masyarakat umum juga sudah bisa menikmati koleksi tersebut dengan cara meminjam buku di perpustakaan Bung Hatta.
Bila ingin memiliki suatu barang, yang terlintas untuk menjadikannya sebagai barang koleksi bisa dipikirkan kembali. Pertimbangkan lagi bentuk apa barang koleksian yang akan dikoleksi, manfaatnya dan juga ingat waktu telah terbuang untuk mengoleksi suatu koleksi. Okelah jika ada manfaatnya, jika tidak, kita akan merugi dua kali.