Jika siswa meraih suatu prestasi maka akan diberi hadiah yang dapat memotivasi dirinya untuk meningkatkan prestasi tersebut. Hadiah itu seperti, memberikan pujian, memberiksn A plus dan sebagainya. Tetapi jika mahasiswa meraih segenggam prestasi apakah yang patut diberikan untuk memotivasi diri mahasiswa?
Sebuah tanggung jawab dapat menjadi penghargaan bagi mahasiswa. Sesuai dengan namanya, “maha” maka tanggung jawab yang diberikan juga lebih besar. Mulai dari tanggung jawab pribadi hingga tanggungjawab terhadap masyarakat. Seperti yang tercantum dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Dalam hal ini jangan memandang tanggungjawab sebagai beban. Mahasiswa secara bertahap dapat melakukan hal sekecil apapun demi perubahan. Pastinya ke arah yang lebih baik dan bermanfaat. Sebagai agent of change mahasiswa diharapkan mengetahui keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat. Kepedulian mahasiswa akan menjadi denyut jantung bagi masyarakat jika mahasiswa memperlihatkan kepeduliannya.
Sayangnya kepedulian sebagian mahasiswa tergolong rendah dibanding ego mereka. Mereka akan memilih bergulat dengan keingingan hidup bebas dan santai dibanding menjalani kehidupan yang formal-formal. Seperti fenomena belakangan ini, di saat ribuan korban bencana alam membutuhkan belai kasih. Ternyata ada sekelompok mahasiswa lebih memilih merancang liburan. Di saat ada tawaran menjadi sukarelawan untuk membantu korban di tenda pengungsian, masih ada mahasiswa yang malah memilih berhura-hura dengan teman sejawat dan tidur-tiduran menikmati waktu senggangnya.
Melihat keadaan ini, terlihat jelas kepedulian mahasiswa sangat kurang. Mahasiswa sebagai pengontrol terhadap ketimpangan dikalangan masyarakat tidak lagi menjadi sesuatu yang sakral. Justru mahasiswa yang mulai melakukan penyimpangan terhadap tugas dan tanggungjawab mereka masing-masing.
Mahasiswa yang diharapkan dapat menyelesaikan masalah di kalangan masyarakat. Namun realita yang terjadi hanya sekedar bayang dan harapan semu masyarakat. Tidak jarang pula mahasiswa yang membuat rusuh masyarakat. Tindakan mereka yang tidak senonoh, amoral dan liar merusak citra mahasiswa dikalangan masyarakat. Padahal mayarakat menanti pemikiran-pemikiran dan menunggu sumbangan pergerakan dari mahasiswa untuk bangsanya sendiri.
Mahasiswa sebagai masyarakat intelektual tidak lagi duduk pada posisinya. Kedudukan yang hanya sebatas penghargaan. Lambat laun kedudukan tersebut akan mati, karena mahasiswa terlena dengan ketenaran, jabatan dan kemewahan. Dengan tawaran tersebut mahasiswa akan semakin dilema.
Bukan itu saja, dalam hal akademik pun mahasiswa memiliki tanggungjawab. Persemesternya ada 24 SKS yang akan menjadi tanggung jawab mahasiswa. Dalam jumlah SKS itulah mahasiswa mengembangkan dan menyerap ilmu pengetahuan sesuai bidang masing-masing. Dan mahasiswa diharapkan dapat memanfaatkan ilmu tersebut untuk kemajuan masyarakat. Sekaligus melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ketiga.
Namun jika perhatikan, dalam hal akademikpun mahasiswa masih lengah. Mahasiswa lebih tertarik kepada bidang rekreasi, hiburan dan permainan. Alasan sebagian mereka mengikuti kuliah hanya menunggu ijazah dengan tujuan meraih cita-cita dan mencari uang. Tanpa mereka memikirkan apa yang dapat mereka lakukan untuk masyarakat.
Jika fenomena ini terus berkanjut, apakah kita baik mahassiwa maupun masyarakat umum memiliki contekan masa depan? Apakah yang akan terjadi pada bangsa kita, jika tonggak penopang tidak di fungsikan lagi.
Jika siswa bangga bila diberi penghargaan kenapa mahasiswa malah mengabaikan penghargaan tersebut. Rasanya tanggung jawab adalah hal terbaik diberikan pada mahasiswa agar mahassiwa dapat menjalani hidup mereka sesuai fungsi mereka. Ataukah mahassiwa sebagai kaum intelektual (mahasiswa_red) hanya sebagai pengisi buku surve di negara kita.
