Minggu, 28 Desember 2008

INGATKAH KAMU


Kita sadar gak, kalau kita pernah semungil ini?

Terlahir tanpa sehelai benang pun.

Berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru yang terang dan begitu dingin.

Tidak ada kehangatan rahim ibu, tidak ada tali pusat yang selalu mengikat kita dan tidak ada lagi kesunyian yang pernah kita rasakan dalam kandungan ibu.

Dunia begitu membuat kita terkejut. Berbeda dengan apa yang kita rasakan di alam yang gelap dan sunyi dulu. Dunia terasa hiruk dengan segala tetek bengek kepahitan. Terasa bergema bila kita mengumandankan impian-impian besar untuk membangun kehidupan. Dan teriakan-teriakan meminta kebahagiaan dari janji-janji muluk.

Ketika sesosok makhluk membisikkan ajal, jodoh, dan nasib kita. Setibanya di dunia baru, akankan kita tetap ingat dengan semua itu? Atau memang terlupakan saat jemari-jemari halus nan kecil kita terbuka dari genggaman sewaktu kita berada di antara dunia dan rahim.

ALUMNI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG™

ALUMNI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG™

Jumat, 19 September 2008

ETIKA, LAIN DULU LAIN SEKARANG


Dalam kehidupan sehari-hari, akhlak, etika, moral dan susila dijadikan prinsip atau aturan hidup manusia untuk menakar harkat dan martabat kemanusiaannya. Semakin rendah kualitas akhlak, etika, moral dan susila seseorang atau sekelompok orang, maka semakin rendah pula kualitas kemanusiaannya. Juga sebaliknya, semakin tinggi kualitas akhlak, etika, moral dan susila seseorang atau sekelompok orang, maka makin tinggi pula kualitas kemanusiaannya.
Untuk melakukan segala tindakan dalam kehidupanpun, akhlak, etika, moral dan susila diikat oleh seperangkat peraturan hidup yang sering kita dengar dengan sebutan norma. Berpedoman kepada norma, segala sesuatunya akan dikaitkan dengan baik atau buruknya tindakan manusia. Misalnya, jika melakukan perbuatan baik seperti menolong sesama, akibat dari perbuatan itu akan mendapat rasa puas dari dirinya dan mendapatkan nilai positif dari masyarakat sekitar. Begitu juga sebaliknya. Seperti seseorang yang merokok dihadapan tamu atau orang yang dihormati. Seharusnya itu tidak dilakukan. Jika tindakan tersebut tetap dilakukan maka akibat dari tidakan itu akan mendapat celaan karena dianggap tidak sopan walaupun merokok tidak dilarang. Atau seorang tamu yang hendak pulang, menurut tatakrama harus diantar sampai muka rumah. Bila tidak, maka akibat dari tidakannya itu juga akan mendapat celaan karena dianggap sombong dan tidak menghormati tamu.
Begitu penting bagi masyarakat kita untuk berakhlak, beretika, bermoral dan bersusila. Ini dianggap sebagai patokan hidup dan pedoman untuk hidup bermasyarakat. Dalam kehidupan bermasyrakat, harus tahu baik buruk akibat yang ditimbulkan dari tindakan sendiri atau sekelompok orang. Penilaian baik buruk tindakan tersebut, dilakukan oleh etika. Etike berperan sebagai komponen bathiniah yang bisa mempertimbangkan bagaimana caranya bersikap etis dan baik, yang biasanya pertimbangan itu timbul dari kesadaran sendiri. Seperti yang dijelaskan oleh Ahmad Amin, bahwa etika itu merupakan ilmu pengetahuan yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dicapai oleh manusia dalam perbuatan mereka, dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat oleh manusia.
Penilaian baik buruknya itu juga tergantung penerimaan pada masyarakat bersangkutan. Jika suatu tindakan dianggap menyenangkan, mendatangkan rahmat, mendatangkan bahagia dan dihargai positif, berarti tindakan tersebut dianggap baik. Begitu juga sebaliknya, jika perbuatan dipandang sebagai tindakan negatif dan bertentangan dengan norma yang berlaku pada masyarakat tertentu maka tindakan itu dianggap sebagai tindakan yang buruk. Untuk itu, etika adalah urutan pertama dalam memahami dan mematuhi norma yang berlaku pada masyrakat tertentu. Karena etikalah yang berperan dalam menentukan sesuatu itu baik atau tidak.
Namun rasanya etika ini makin pudar bagi kehidupan sekarang. Karena etika untuk menilai suatu tindakan sesuai dengan norma yang berlaku semakin kurang. Antara waktu dan nilai etika itu berbanding terbalik. Semakin bertambah berjalannya waktu, nilai etika rasanya semakin kurang. Untuk kehidupan belakangan ini, etika semakin memudar. Contoh kecil lagi kita lihat pada tindakan ketika menelpon seseorang. Semenjak masyarakat diberikan layanan gratis nelpon. Umumnya masyarakat bergadang sampai pagi. Bergadang bukan karena nonton tv atau karena ada siaran langsung sepak bola atau karena ronda malam, tapi karena asyiknya nelpon lewat ponsel. Pemandangan ini dimulai sejak operator telpon seluler berlomba-lomba untuk memberikan layanan telpon gratis. Apalagi jika menelpon dilakukan antara jam 24.00 sampai 05.00.
Dengan layanan komunikasi gratis ini, tidak heran lagi hampir setiap malam banyak orang yang bergadang. Ini bukan saja menggangu pada kesehatan dan kualitas kerja untuk esok harinya namun tindakan seperti ini telah memudarkan etika yang telah ada. Adanya layanan telpon murah dan gratis ini, etika telah dikesampingkan. Jika dulu untuk menelpon seseorang lewat dari jam 21.00 saja, harus berpikir panjang seribu atau dua ribu kali karena dianggap tidak etis. Tapi, rasa tidak etis untuk menghubungi seseorang tengah malam kini sudah biasa dan makin menghilang.
Di sini, kembali ditanyakan etikanya. Semua juga tahu, etika dibutuhkan untuk mengetahui baik burunknya perbuatan. Tapi contoh singkat di atas, apa masih terlihat etika dari masyarakatnya itu sendiri. Kembali ditanyakan, nelpon tengah malam apakah suatu tindakan yang baik atau suatu tindakan yang etis? Karena konsep yang baik itu adalah segala tindakan yang dihargai positif. Telpon tengah malam dianggap sebagian orang sebagai tindakan baik karena masih bisa menerima tindakan itu sebagai tindakan yang positif. Sama-sama menyenangkan dan sama-sama menghargai tindakan itu meski sudah tidak etis lagi. Jika hal kecil dalam menelpon saja sudah mulai diabaikan, apakah untuk etika lainnya juga mulai akan dipudarkan?
Sekarang etika dilihat sebagai sesuatu yang relatif karena sudah bisa berubah-rubah. Jika sama-sama senang dan gembira, tindakan tertentu dianggap baik meski sebenarnya belum begitu. Etika dulu dipandang sebagai sesuatu yang absolut yang berarti tidak dapat ditawar-tawar. Kalau tindakan baik mendapat pujian dan tidakan yang salah mendapatkan sanksi. Tidak tergantung pada ada atau tidaknya seseorang di suatu tempat.
Etika rasanya perlu ditanamkan lagi pada masyarakat yang telah diikat norma. Karena dengan etika semua akan mendapatkan konsep yang sama mengenai penilaian tindakan baik atau tindakan buruk bagi semua masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari atau dalam ruang dan waktu tertentu. Etika dapat mengembalikan tata sopan santun dan aturan yang disetujui masyarakat yang menjalaninya. Untung rugi beretika hanya akan dirasakan oleh masyarakat yang menjalani karena hidup dalam masyarakat yang baik dan menyenangkan. Yaitu dalam kehidupan masyarakat yang berakhlak, beretika, bermoral dan bersusila. Keempat kata ini bukan semata-mata dipengaruhi oleh faktor keturunan, tapi merupakan potensi positif yang dimiliki setiap orang. Untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi positif tersebut, diperlukan pendidikan, pembiasaan, dan keteladanan, serta dukungan lingkungan. Mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat secara terus menerus, berkesinambangan, dengan tingkat keajegan dan konsistensi yang tinggi.(penulis aktif di SKK GANTO UNP)

ANTARA FORMALITAS DAN KESADARAN MORAL



Siapa saja pasti menginginkan hubungan yang baik dan memberi kontribusi salam kesehariannya. Baik hubungan dengan keluarga, teman, guru ataupun dosen, lingkungan sekitas dan hubungan dengan diri sendiri. Setiap hubungan itu pasti mempunyai tujuan tertentu. Seperti hubungan dengan keluarga biasanya mempunyai tujuan memberi dan menyalurkan kasih sayang kepada orang-orang terdekat. Hubungan dengan teman biasanya mempunyai tujuan dapat mencari tempat berbagi di luar keluarga, dan tempat menikmati hari-hari indah bersama orang-orang terdekat.
Begitu pula dengan hubungan dengan dosen atau pun guru yang jelas-jelas mempunyai tujuan. Pertama karena beliau orang yang mendidik kita, kedua berperan sebagai orang tua kedua, ketiga tujuan tertentu dalam hal akademik. Misalnya saja karena menunggu nilai yang akan diberikan guru atau pun dosen setelah seabrek materi yang telah ditranfernya dalam hal belajar mengajar. Lain lagi hubungan dengan diri sendiri, lebih memiliki harapan. Karena dengan memiliki hubungan baik dengan diri sendiri juga bisa memperbaiki dan mempertahankan hubungan dengan orang lain dan lingkungan. Karena segala sesuatunya bisa di mulai dari diri sendiri. Jika hubungan dengan diri sendiri baik, akan bisa mengontrol dan memotivasi agar hubungan dengan orang lain dan lingkungan juga baik.
Ya, untuk dapat menjadi lebih baik dalam hubungan dibutuhkan suatu resep yaitu adanya motivator. Motivator yang dapat menghubungkan bahwa diantara hubungan yang terjalin itu ada kesepakatan yang tersirat. Dapat memberi tanggung jawab, pengertian, rasa hormat dan simpati kepada orang lain. Dengan adanya rasa itu, akan menjalin hubungan yang lebih bermakna.
Seperti hubungan mahasiswa dan dosen. Antara hubungan ini terbagi menjadi dua hubungan. Pertama hubungan formalitas dan kedua yang benar-benar tumbuh dari hati nurani. Hubungan yang sekedar formalitas biasanya menjalani hubungan yang ada dengan mengemban rasa tanggung jawab dan tugas dari jabatan masing-masing. Antara dosen dan mahasiswa ada harapan untuk menjalin hubungan karena pemberian materi kuliah dilanjutkan dengan pemberian nilai. Besar kecilnya tugas dan tanggung jawab dapat mempengaruhi besar kecilnya motivasi baik bagi dosen maupun mahasiswa untuk terus melanjutkan hubungan.
Kedua, hubungan yang benar-benar dari tumbuh karena kesadaran moral untuk mendidik. Hubungan jenis kedua ini sangat berbeda dengan hubungan formalitas. Karena jenis kedua ini tumbuh dari dalam hati dan kesadaran moral seorang pendidik kepada anak didiknya. Hubungan yang terjalin pun tidak hanya karena nilai dari hasil ujian dan jumlah daftar yang tidak kurang dari 80% serta tidak hanya sekedar transfer ilmu. Lebih dari itu, antara dosen dan mahasiswa akan terdapat hubungan yang sangat erat.
Antara dua hubungan ini, hubungan karena kesadaran moral akan lebih bermakna dan tidak kaku dalam menjalaninya. Dengan hubungan yang seperti ini mahasiswa akan benar-benar menganggap hubungan yang terjalin dapat mereka nikmati. Dapat mengadu kepada dosen atau guru sebagai orang tua kedua bagi mereka jika ada permasalahan yang mereka hadapi. Dapat melihat dosen atau guru sebagai orang-orang yang dekat dengan mereka. Karena dalam usia perkembangan akan sangat dibutuhkan perhatian, tuntunan dan control dari orang-orang yang mereka hormati.
Berbeda dengan hubungan yang hanya karena formalitas. Mereka akan kaku dalam menjalaninya. Takut bertanya dan tidak mampu untuk dekat dengan “orang tua mereka sendiri”. Makanya dalam hubungan formalitas dosen terbiasa memperlakukan mahasiswa sebagai orang dewasa yang mengerti tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing. Mahasiswa pun tidak akan dapat berkata apa-apa jika dosennya telah berpetuah, mahasiswa pun tidak akan bisa meninggalkan tanggung jawab yang diberikan dosennya meskipun tidak menyukai apa yang diperintahkan dosennya. Karena tugas dan kewajiban yang diberikan oleh dosen merupakan tanggungjawab yang harus ditunaikan.
Oleh karenanya dalam suatu hubungan sangat dibutuhkan kesadaran moral dan motivasi. Dalam keseharian kita, motivasi yang diberikan meski kecil akan dapat melahirkan semangat besar. Dan besar kecilnya motivasi akan mempengaruhi kuat lemahnya hubungan.

Kamis, 21 Agustus 2008

TANGGUNG JAWAB SEBAGAI HADIAH

Jika siswa meraih suatu prestasi maka akan diberi hadiah yang dapat memotivasi dirinya untuk meningkatkan prestasi tersebut. Hadiah itu seperti, memberikan pujian, memberiksn A plus dan sebagainya. Tetapi jika mahasiswa meraih segenggam prestasi apakah yang patut diberikan untuk memotivasi diri mahasiswa?

Sebuah tanggung jawab dapat menjadi penghargaan bagi mahasiswa. Sesuai dengan namanya, “maha” maka tanggung jawab yang diberikan juga lebih besar. Mulai dari tanggung jawab pribadi hingga tanggungjawab terhadap masyarakat. Seperti yang tercantum dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Dalam hal ini jangan memandang tanggungjawab sebagai beban. Mahasiswa secara bertahap dapat melakukan hal sekecil apapun demi perubahan. Pastinya ke arah yang lebih baik dan bermanfaat. Sebagai agent of change mahasiswa diharapkan mengetahui keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat. Kepedulian mahasiswa akan menjadi denyut jantung bagi masyarakat jika mahasiswa memperlihatkan kepeduliannya.

Sayangnya kepedulian sebagian mahasiswa tergolong rendah dibanding ego mereka. Mereka akan memilih bergulat dengan keingingan hidup bebas dan santai dibanding menjalani kehidupan yang formal-formal. Seperti fenomena belakangan ini, di saat ribuan korban bencana alam membutuhkan belai kasih. Ternyata ada sekelompok mahasiswa lebih memilih merancang liburan. Di saat ada tawaran menjadi sukarelawan untuk membantu korban di tenda pengungsian, masih ada mahasiswa yang malah memilih berhura-hura dengan teman sejawat dan tidur-tiduran menikmati waktu senggangnya.

Melihat keadaan ini, terlihat jelas kepedulian mahasiswa sangat kurang. Mahasiswa sebagai pengontrol terhadap ketimpangan dikalangan masyarakat tidak lagi menjadi sesuatu yang sakral. Justru mahasiswa yang mulai melakukan penyimpangan terhadap tugas dan tanggungjawab mereka masing-masing.

Mahasiswa yang diharapkan dapat menyelesaikan masalah di kalangan masyarakat. Namun realita yang terjadi hanya sekedar bayang dan harapan semu masyarakat. Tidak jarang pula mahasiswa yang membuat rusuh masyarakat. Tindakan mereka yang tidak senonoh, amoral dan liar merusak citra mahasiswa dikalangan masyarakat. Padahal mayarakat menanti pemikiran-pemikiran dan menunggu sumbangan pergerakan dari mahasiswa untuk bangsanya sendiri.

Mahasiswa sebagai masyarakat intelektual tidak lagi duduk pada posisinya. Kedudukan yang hanya sebatas penghargaan. Lambat laun kedudukan tersebut akan mati, karena mahasiswa terlena dengan ketenaran, jabatan dan kemewahan. Dengan tawaran tersebut mahasiswa akan semakin dilema.

Bukan itu saja, dalam hal akademik pun mahasiswa memiliki tanggungjawab. Persemesternya ada 24 SKS yang akan menjadi tanggung jawab mahasiswa. Dalam jumlah SKS itulah mahasiswa mengembangkan dan menyerap ilmu pengetahuan sesuai bidang masing-masing. Dan mahasiswa diharapkan dapat memanfaatkan ilmu tersebut untuk kemajuan masyarakat. Sekaligus melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ketiga.

Namun jika perhatikan, dalam hal akademikpun mahasiswa masih lengah. Mahasiswa lebih tertarik kepada bidang rekreasi, hiburan dan permainan. Alasan sebagian mereka mengikuti kuliah hanya menunggu ijazah dengan tujuan meraih cita-cita dan mencari uang. Tanpa mereka memikirkan apa yang dapat mereka lakukan untuk masyarakat.

Jika fenomena ini terus berkanjut, apakah kita baik mahassiwa maupun masyarakat umum memiliki contekan masa depan? Apakah yang akan terjadi pada bangsa kita, jika tonggak penopang tidak di fungsikan lagi.

Jika siswa bangga bila diberi penghargaan kenapa mahasiswa malah mengabaikan penghargaan tersebut. Rasanya tanggung jawab adalah hal terbaik diberikan pada mahasiswa agar mahassiwa dapat menjalani hidup mereka sesuai fungsi mereka. Ataukah mahassiwa sebagai kaum intelektual (mahasiswa_red) hanya sebagai pengisi buku surve di negara kita.

Senin, 04 Agustus 2008

KOLEKSI

Koleksi merupakan kata yang sering digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita mengumpulkan barang-barang antik kita menyebutnya koleksi. Ketika kita sibuk membeli dan membaca buku kita menyebutnya koleksi. Dan ketika kita mengumpulkan hasil karya kita, kita juga menyebutnya sebagai barang koleksi. Namun, koleksi seseorang bukan saja karena hobi tapi juga karena barang yang dikumpulkan itu berhubungan dengan studi penelitian. Seperti koleksi kupu-kupu, koleksi bebatuan, koleksi dedaunan dan lain-lain.
Biasanya, terhadap barang koleksi kita selalu merawatnya dengan hati-hati. Apalagi diantara barang koleksi itu ada sang juaranya. Sang juara akan diperlakukan lebih khusus lagi. Biasanya diletakkan pada tempat yang menjadi fokus penglihatan biar lebih leluasa melihat koleksi kita.
Berdasarkan KBBI, koleksi adalah kumpulan gambar, benda bersejarah, lukisan dan lain-lain yang sering dikaitkan dengan minat atau hobi. Koleksi akan menjadi sesuatu yang menyenangkan dan bermanfaat. Namun, ada pula koleksi yang sudah lepas dari manfaat dan bergeser dari fungsinya. Koleksi yang dikumpulkan terkadang ada yang kurang wajar. Bahkan jika dilihat dari sisi kita sebagai penilai, tidak ada keuntungannya. Malah mubazir. Seperti selebritis di Negara kita yang hobi mengumpulkan barang-barang aneh sekaligus mahal. Seperti Sandra dewi yang mengoleksi struk belanjaannya. Sandra Dewi belum bisa tidur sebelum memegang koleksi struk belanjaan tersebut.
Lain lagi Talitha Latief yang hobi mengoleksi sepatu. Sepatunya ada dari berbagai jenis harga dan ada pula yang didapatnya di luar negeri. Dan Chicco Jericho yang hobi koleksi pernak pernik, terutama Supermen.
Demi kepuasan batin, mereka rela mengorbankan uang dan waktu mereka untuk koleksi mereka. Bahkan sampai melupakan orang lain yang lebih membutuhkan perhatian dan uluran tangannya demi mencari sesuap nasi untuk mengisi perutnya yang hampir kosong selama dua hari. Jika fenomenanya seperti itu, dimana sebenarnya kemanusiaan seorang kolektor yang begitu terkesan mubazir. Kalau mereka melihat dan ingat bagaimana saudaranya di tempat lain? Apakah yang akan mereka lakukan?
Memang, mengkoleksi barang kesukaan yang sesuai dengan minat dan hobi bisa membuat kita kosentrasi dalam bekerja dan juga bisa dengan sendirinya akan memberi inspirasi. Hal itu bisa dimaklumi karena manusia akan menjadi lebih baik jika ditemani barang-barang kesayangannya. Barang-barang kesayangan tersebut dapat membantu untuk mengolah pikiran untuk melakukan hal lain.
Tapi ada baiknya, untuk mengoleksi sesuatu dipikirkan dulu apa manfaat dan ruginya. Barang koleksian yang banyak manfaatnya bagi orang lain, itu akan terasa lebih indah. Dan coba renungkan, buat apa kita mengkoleksi barang yang tidak ada gunanya dan malah menimbulkan kerugian.
Kolektor yang memberikan contoh yang baik adalah salah satu tokoh bangsa kita, yaitu Bung Hatta yang hobi koleksi buku. Sehingga beliau bisa mendirikan perpustakaan pribadi. Dari perpustakaan itu ia bisa mengintip dunia dan mempelajarinya. Perpustakaan tersebut tidak hanya digunakan secara pribadi namun anak-anaknya juga bisa memanfaatkan koleksinya. Namun, sejak kepergian beliau menghadap sang pencipta, tidak saja anak, cucu, keluarga lain dan pembantunya yang menikmati koleksi perpustakaan Bung Hatta. Tapi masyarakat umum juga sudah bisa menikmati koleksi tersebut dengan cara meminjam buku di perpustakaan Bung Hatta.
Bila ingin memiliki suatu barang, yang terlintas untuk menjadikannya sebagai barang koleksi bisa dipikirkan kembali. Pertimbangkan lagi bentuk apa barang koleksian yang akan dikoleksi, manfaatnya dan juga ingat waktu telah terbuang untuk mengoleksi suatu koleksi. Okelah jika ada manfaatnya, jika tidak, kita akan merugi dua kali.

Minggu, 27 Juli 2008

cuma nanya

Kenapa banyak orang yang hancur karena harapannya sendiri?

Rabu, 23 Juli 2008

PERCINTAAN ANTARA ANAK DAN TELEVISI

Siaran televisi belakangan ini sering menyajikan tontonan yang memperlihatkan betapa hausnya Negara kita. Haus dari segi ekonomi, sosial budaya, pendidikan, keamanan dan pertahanan serta politik. Dari beribu tontonan itu ada tontonan mahasiswa yang melakukan demo karena beberapa kebijakan pemetintah yang kurang memikirkan keadaan rakyat, ada ibu-ibu rumah tangga yang melakukan unjuk rasa karena merasa tercekik dengan naiknya BBM. Dipertontonkan bagaimana mereka dengan segala kekuatannya memperlihatkan pada pemerintah kepedihan mereka sambil memukul periuk, panci, kuali dan alat dapur lainnya dengan sendok. Dari tontonan itu nyata terlihat betapa terpuruknya bangsa kita.
Beda lagi dengan sajian televisi yang mengintip para anggota dewan yang melakukan rapat dan sidang yang katanya demi kesejahteraan rakyat, tapi kenapa masih ada yang tidur? Dimana keputusan terbaik untuk rakyat bisa diambil jika penyangga rakyat bisa tertidur di tengah keterjepitan masyarakat. Apakah dengan tidur, para anggota dewan bisa memperoleh putusan terbaik melalui mimpi? Sungguh pemandangan yang tidak sesuai dengan wibawa seorang anggota dewan.
Sedangkan di program lain, televisi juga menyajikan sajian yang 80% sajiannya hanya cerita bohong. Seperti iklan-iklan dan tayangan sinetron yang disampaikan secara sesederhana mungkin namun dapat memikat hati.
Sajian-sajian yang memikat hati dan lainnya itu bisa dinikmati oleh siapa saja termasuk anak-anak yang masih diibaratkan kertas kosong. Dengan kepolosan dan keluguan anak-anak, orang tua dan orang dewasa bisa saja menggores kertas putih tersebut dengan hal-hal apa saja yang dinginkan. Akankan menginginkan kertas polos itu akan digores dengan tinta merah, hitam, putih dan warna lainnya atau akan menggarisnya dengan penggaris atau tanpa penggaris. Semua dapat diarahkan dan dikontrol oleh orang tua dan orang dewasa.
Namun sekarang karena kondisi dan keterlibatan orang tua dalam mencari kehidupan yang lebih layak, perhatian untuk anak sering terlupakan. Apa lagi dalam hal menonton televisi. Bagi orang dewasa yang sudah bisa menentukan mana yang pantut diterima dan yang kurang patut sudah bisa dibedakan. Bagi anak-anak itu tidak pernah dipertimbangkanya. Apakah tontonan tersebut ada nilai pengetahuannya atau tidak. Seperti halnya anak-anak yang menyukai makanan ringan. Mereka hanya berpikir makan ringan tersebut itu enak dan menyenangkan. Tapi mereka tidak pernah berpikir gizi, vitamin dan protein apa yang terdapat dalam makanan ringan tersebut. Asal mereka suka dan membuat mereka senang, mereka akan tetap melakukannya.
Begitu pula minat mereka dengan televisi. Mereka menganggap televisi lebih menyenangkan dari pada belajar dan mendengarkan nasehat orang tua. Mereka merasa terlayani dengan adanya televisi. Dengan adanya televisi anak-anak akan melupakan kesulitannya, dengan adanya televisi mereka gunakan untuk mengisi waktu, mempelajari sesuatu, memberikan ransangan, bersantai, mencari persahabatan dan sekedar kebiasaan.
Sekedar kebiasaan yang menjadi darah daging bagi anak-anak bisa saja untuk mempelajari sesuatu. Namun dengan sajian televisi yang mulai kurang mendidik telah merempas waktu dan persepsi anak-anak dalam berpikir dan berinteraksi dengan orang lain. Apa lagi sinetron yang disajikan antara jam 7 sampai jam 10 malam mampu mencuri waktu belajar anak-anak dan berkumpul dengan keluarga. Dengan sajian televisi anak akan melihat bagaimana penggunakan bahasa seperti penambahan kosa kata yang dimiliki anak di kalangan artis dan aktor televisi juga berbicara dengan lawan bicara dan diikuti bahasa tubuh.
Dengan itu semua anak bisa belajar. Namun, apa yang akan diambil dan diserap oleh mereka dengan sajian kerisihan masyarakat. Apa yang akan mereka serap dari makanan yang mereka makan, tidak ada kandungan gizi bagi mereka. Enaknya mereka rasakan sekejap saat mengnikmatinya, namun akibat dari makanan ringan tersebut juga tidak bisa ditangani dengan sepele.
Dengan siswa menonton sajian orang dewasa yang selalu memaki dan melakukan hal yang kurang wajar di televisi, mereka dengan mudah akan meniru adegan tersebut. Dengan televisi anak juga bisa belajar menyatakan cinta pada temannya. Boleh kita ibaratkan televisi itu lakasana universitas terbuka. Seperti tayangan beberapa program televisi yang menyingkap kasus pembunuhan, pemerkosaan, perampokan dan kasus kriminal lainnya. Dalam tayangannya diperlihatkan motif dan taktik bagaimana pelaku melakukan aksinya. Dengan menampilkan bagaimana aksi pelaku dan cara apa yang digunakannya sebenarnya memberi pelajaran dan melihatkan bagaimana caranya untuk melakukan kejahatan.
Dengan pengetahuan yang baru diketahui anak, akan memotivasi mengikuti apa yang telah mereka lihat di televisi. Dengan informasi yang baru ini, membuat anak gembira dan merasa menikmati, memang akan membuat mereka menyukainya. Mereka akan berusaha menjadi seperti aktor yang mereka tonton dan mereka idolakan. Ingin diakui dikalangan teman-teman dan dianggap seperti bintang film tertentu.
Akan lebih buruk akibatnya jika seorang anak menonton adegan itu tanpa dampingan orang tua. Mereka sebagai makhluk yang unik dan peniru akan menganggap tontonan itu bisa ditiru. Bisa saja dengan motif rasa penasaran anak. Makanya untuk menonton televisi sebenarnya anak perlu ditemani bukan malah memberikan anak televisi di kamar pribadinya.
Untuk menghindari dampak negative dari televisi bukan dengan cara membuang dan menjauhkan anak dari televis. Hanya saja perlu pengontrolan dari orang tua sebagai orang yang paling dekat dengan anak. Sebagaimana kata Kahlil Gibran kalau orang tua itu adalah busur dari anak panah kehidupan putra-putrinya untuk melesat ke masa depan. Karena anak-anak juga mendambakan kehidupannya sendiri.
Televisi memiliki banyak manfaat. Namun, jika anak menonton televisi tanpa ditemani orang tua, manfaat televisi akan lebih banyak jika televisi dimatikan. Seperti orang-orang amerika yang mematikan dan melarang anak-anak mereka menonton televisi. Dalam hal ini sebenarnya peran orang tua dituntut lebih besar. Orang tua merupakan guru pertama dan utama bagi anak. Pada orang tua, anak pertama kali belajar dan menaruh kepercayaan. Kesempatan ini harus digunakan dengan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyakknya untuk menanamkan segala hal tentang dasar-dasar kebaikan, sebelum anak terpengaruh lingkungan, teman, orang lain atau dari televisi. Orang tualah yang harus memerankan pada anak langka-langkah apa yang harus diambil oleh anak, memberikan sikap yang baik, termasuk pilihan acara televisi yang “bergizi”.
Oleh Ulfia Rahmi

Siaran televisi belakangan ini sering menyajikan tontonan yang memperlihatkan betapa hausnya Negara kita. Haus dari segi ekonomi, sosial budaya, pendidikan, keamanan dan pertahanan serta politik. Dari beribu tontonan itu ada tontonan mahasiswa yang melakukan demo karena beberapa kebijakan pemetintah yang kurang memikirkan keadaan rakyat, ada ibu-ibu rumah tangga yang melakukan unjuk rasa karena merasa tercekik dengan naiknya BBM. Dipertontonkan bagaimana mereka dengan segala kekuatannya memperlihatkan pada pemerintah kepedihan mereka sambil memukul periuk, panci, kuali dan alat dapur lainnya dengan sendok. Dari tontonan itu nyata terlihat betapa terpuruknya bangsa kita.
Beda lagi dengan sajian televisi yang mengintip para anggota dewan yang melakukan rapat dan sidang yang katanya demi kesejahteraan rakyat, tapi kenapa masih ada yang tidur? Dimana keputusan terbaik untuk rakyat bisa diambil jika penyangga rakyat bisa tertidur di tengah keterjepitan masyarakat. Apakah dengan tidur, para anggota dewan bisa memperoleh putusan terbaik melalui mimpi? Sungguh pemandangan yang tidak sesuai dengan wibawa seorang anggota dewan.
Sedangkan di program lain, televisi juga menyajikan sajian yang 80% sajiannya hanya cerita bohong. Seperti iklan-iklan dan tayangan sinetron yang disampaikan secara sesederhana mungkin namun dapat memikat hati.
Sajian-sajian yang memikat hati dan lainnya itu bisa dinikmati oleh siapa saja termasuk anak-anak yang masih diibaratkan kertas kosong. Dengan kepolosan dan keluguan anak-anak, orang tua dan orang dewasa bisa saja menggores kertas putih tersebut dengan hal-hal apa saja yang dinginkan. Akankan menginginkan kertas polos itu akan digores dengan tinta merah, hitam, putih dan warna lainnya atau akan menggarisnya dengan penggaris atau tanpa penggaris. Semua dapat diarahkan dan dikontrol oleh orang tua dan orang dewasa.
Namun sekarang karena kondisi dan keterlibatan orang tua dalam mencari kehidupan yang lebih layak, perhatian untuk anak sering terlupakan. Apa lagi dalam hal menonton televisi. Bagi orang dewasa yang sudah bisa menentukan mana yang pantut diterima dan yang kurang patut sudah bisa dibedakan. Bagi anak-anak itu tidak pernah dipertimbangkanya. Apakah tontonan tersebut ada nilai pengetahuannya atau tidak. Seperti halnya anak-anak yang menyukai makanan ringan. Mereka hanya berpikir makan ringan tersebut itu enak dan menyenangkan. Tapi mereka tidak pernah berpikir gizi, vitamin dan protein apa yang terdapat dalam makanan ringan tersebut. Asal mereka suka dan membuat mereka senang, mereka akan tetap melakukannya.
Begitu pula minat mereka dengan televisi. Mereka menganggap televisi lebih menyenangkan dari pada belajar dan mendengarkan nasehat orang tua. Mereka merasa terlayani dengan adanya televisi. Dengan adanya televisi anak-anak akan melupakan kesulitannya, dengan adanya televisi mereka gunakan untuk mengisi waktu, mempelajari sesuatu, memberikan ransangan, bersantai, mencari persahabatan dan sekedar kebiasaan.
Sekedar kebiasaan yang menjadi darah daging bagi anak-anak bisa saja untuk mempelajari sesuatu. Namun dengan sajian televisi yang mulai kurang mendidik telah merempas waktu dan persepsi anak-anak dalam berpikir dan berinteraksi dengan orang lain. Apa lagi sinetron yang disajikan antara jam 7 sampai jam 10 malam mampu mencuri waktu belajar anak-anak dan berkumpul dengan keluarga. Dengan sajian televisi anak akan melihat bagaimana penggunakan bahasa seperti penambahan kosa kata yang dimiliki anak di kalangan artis dan aktor televisi juga berbicara dengan lawan bicara dan diikuti bahasa tubuh.
Dengan itu semua anak bisa belajar. Namun, apa yang akan diambil dan diserap oleh mereka dengan sajian kerisihan masyarakat. Apa yang akan mereka serap dari makanan yang mereka makan, tidak ada kandungan gizi bagi mereka. Enaknya mereka rasakan sekejap saat mengnikmatinya, namun akibat dari makanan ringan tersebut juga tidak bisa ditangani dengan sepele.
Dengan siswa menonton sajian orang dewasa yang selalu memaki dan melakukan hal yang kurang wajar di televisi, mereka dengan mudah akan meniru adegan tersebut. Dengan televisi anak juga bisa belajar menyatakan cinta pada temannya. Boleh kita ibaratkan televisi itu lakasana universitas terbuka. Seperti tayangan beberapa program televisi yang menyingkap kasus pembunuhan, pemerkosaan, perampokan dan kasus kriminal lainnya. Dalam tayangannya diperlihatkan motif dan taktik bagaimana pelaku melakukan aksinya. Dengan menampilkan bagaimana aksi pelaku dan cara apa yang digunakannya sebenarnya memberi pelajaran dan melihatkan bagaimana caranya untuk melakukan kejahatan.
Dengan pengetahuan yang baru diketahui anak, akan memotivasi mengikuti apa yang telah mereka lihat di televisi. Dengan informasi yang baru ini, membuat anak gembira dan merasa menikmati, memang akan membuat mereka menyukainya. Mereka akan berusaha menjadi seperti aktor yang mereka tonton dan mereka idolakan. Ingin diakui dikalangan teman-teman dan dianggap seperti bintang film tertentu.
Akan lebih buruk akibatnya jika seorang anak menonton adegan itu tanpa dampingan orang tua. Mereka sebagai makhluk yang unik dan peniru akan menganggap tontonan itu bisa ditiru. Bisa saja dengan motif rasa penasaran anak. Makanya untuk menonton televisi sebenarnya anak perlu ditemani bukan malah memberikan anak televisi di kamar pribadinya.
Untuk menghindari dampak negative dari televisi bukan dengan cara membuang dan menjauhkan anak dari televis. Hanya saja perlu pengontrolan dari orang tua sebagai orang yang paling dekat dengan anak. Sebagaimana kata Kahlil Gibran kalau orang tua itu adalah busur dari anak panah kehidupan putra-putrinya untuk melesat ke masa depan. Karena anak-anak juga mendambakan kehidupannya sendiri.
Televisi memiliki banyak manfaat. Namun, jika anak menonton televisi tanpa ditemani orang tua, manfaat televisi akan lebih banyak jika televisi dimatikan. Seperti orang-orang amerika yang mematikan dan melarang anak-anak mereka menonton televisi. Dalam hal ini sebenarnya peran orang tua dituntut lebih besar. Orang tua merupakan guru pertama dan utama bagi anak. Pada orang tua, anak pertama kali belajar dan menaruh kepercayaan. Kesempatan ini harus digunakan dengan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyakknya untuk menanamkan segala hal tentang dasar-dasar kebaikan, sebelum anak terpengaruh lingkungan, teman, orang lain atau dari televisi. Orang tualah yang harus memerankan pada anak langka-langkah apa yang harus diambil oleh anak, memberikan sikap yang baik, termasuk pilihan acara televisi yang “bergizi”.

Kamis, 17 Juli 2008

g0resan

SELINGKUH
Seorang teman melacur (melalukan curhat). Dia bercerita kalau dia sangat sulit dalam menemukan muara cintanya. Semenjak dia dianuhgerahkan mimpi basah oleh allah, semenjak itulah dia mengembara dalam hal cinta. Dia telah mencoba menggandengi beberapa cewek, tetapi tidak ada yang dapat bertahan lama. Semua hubungannya dengan teman kencannya hanya sebatas umur jagung.
Kegagalannya dalam mencari tambatan hatinya tidak pernah membuatnya putus asa. Dari hari ke hari dia terus berusaha, meski dia telah memiliki pacar. Katanya untuk cadangan jika salah satu dari teman kencan meninggalkannya.
Masa pencarian dilakukan dengan mencari banyak relasi. Dimulai dari berkenalan dengan senior cewek dan junior cewek di jurusannya sampai berkunjung kekosan teman perempuannya. Dengan alasan membicarakan tugas.
Memang usaha ini tidak sia-sia, dia memiliki banyak kenalan terutama kaum hawa. Dan tidak sedikit pula, cewek-cewek tersebut banyak yang suka padanya. Sampai-sampai ada yang lebih berani menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Kalau cewek tersebut suka padanya.
Padahal, di kota lain dia telah memiliki pacar. Karena alasan tidak pernah puas dan tidak merasa nyaman dengan cewek yang sedang digandenginya makanya dia mencari jalan untuk selingkuh.
Ya, selingkuh. Inilah perkiraan saya, perselingkuhan dianggap untuk selingan. Dikala hubungan dengan kekasih sedang renggang, dikala hubungan tersebut sangat membosankan, dan kala ada kesempatan, hati dengan mudahnya terjatuh kepada lain pihak. Meski tidak melangkah terlalu jauh, namun dapat membuat hubungan kita menjadi tambah runyam.
Terkadang ada istilahnya teman dekat—teman curhat—TTM (teman tapi mengharap), yang frekuensi ketemuannya lebih banyak dibanding dengan kekasih hati. Lebih enjoy bersamanya dan lebih terbuka. Namun, banyak dari mereka yang menjadikan teman dekat—teman curhat—TTM itu untuk menjadi pacarnya. Dan meninggalkan pacar lamanya dengan alasan tidak cocok lagi.
Jika kita perhatikan, selingkuh telah menjadi suatu yang biasa. Dikehidupan yang serba modern ini, orang-orang ingin mewujudkan keinginannya secara instan. Bahkan kebahagiaan dalam cinta juga dilakukan dengan cara yang instan. Yaitu selingkuh.
Selingkuh tidak hanya dilakukan oleh kaum adam, tetapi kaum hawa juga melakukannya. Katanya jaman sekarang adalah jaman emnasipasi wanita. Jika cowok dapat melakukannya, yang cewek pun juga tidak mau diam. Kata kaum hawa, “jika cowok bisa selingkuh, kami cewek juga mampu melakukannya!!!!”
Selingkuh adalah suatu kesalahan. Hanya karena bosan dengan hubungan dengan pacar, hanya karena kurang lancarnya komunikasi dan karena berada dalam jarak yang jauh, kita selingkuh. Selingkuh bukanlah jalan terbaik untuk meraih kebahagian. Karena tidak selamanya selingkuh itu indah. Oke_sekarang selingkuh dari kekasih konsekuensinya hanya putus dari pacar. Dan jika seandainya setelah menikah masih ketagihan, dan selingkuh dari pasangan (istri maupun suami) maka akibatnya hubungan keluarga menjadi rusak. Bahkan perselingkuhan dapat mengakibatkan perceraian. Karena dengan hadirnya kawan selingkuhan akan membuat kita semakin tidak serius dalam menjalani hubungan dengan pasangan kita.
Dalam menjalani hubungan (kasih), butuh kerja sama dan saling percaya. Tidak memvonis pasangan dengan tuduhan yang belum tentu keberadaanya. Dan mencari teknik agar tidak bosan dengan pasangan. Saling mengingatkan dan mendukung.

Jumat, 27 Juni 2008

Pertimbangan Untuk Sebuah Keputusan

PERTIMBANGAN UNTUK SEBUAH KEPUTUSAN

Sebuah hubungan terjalin karena ada rasa saling membutuhkan. Membutuhkan untuk memenuhi apa yang diinginkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam ekonomi, saling membutuhkan ini seperti seorang produsen dengan konsumen, ataupun antara keduanya dengan distributor.
Dalam pendidikan seperti siswa dan guru, mereka layaknya sebuah komponen yang saling membutuhkan. Sedangkan dalam kehidupan sosial, kebutuhan itu seperti rasa saling membutuhkan dengan orang lain. Sesuai prinsip sosial, bahwa manusia itu tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.
Hubungan antar sesama timbul karena ada rasa ingin diperhatikan, rasa saling membutuhkan bantuan dan karena tuntutan dari lingkungan. Untuk menjalin sebuah hubungan, idealnya harus dapat saling memberi dan melengkapi. Saling melengkapi kekurang orang lain dengan kelebihan yang kita miliki. Begitu pula sebaliknya, sebaiknya.
Namun dalam kenyataan, tidak semua hubungan dapat memberi dan melengkapi sebagian yang lain. Terkadang justru merugikan dan menuju arah yang negative. Karena didukung oleh emosi yang negative, rasa individualistik yang tinggi dan kurang memiliki moral.
Dapat kita lihat di berbagai ruang dan waktu, berapa banyak hubungan yang berakhir karena hal sepele. Hal sepele yang dibesar-besarkan karena ketidak mampuan mengendalikan gejolak hati pada saat yang tepat. Seperti marah yang datang karena penasaran akan sebuah keputusan, sedih karena merasa dikecewakan dan frustrasi jika berada pada keadaan yang tidak diinginkan.
Pertimbangan untuk mengambil sebuah keputusan pun harus diaduk masak-masak dulu. Agar hasil dari pertimbangan tersebut tidak menghasilkan kekecewaan di masa yang akan datang. Termasuk mempertimbangkan manfaat dari hubungan yang akan dilanjutkan. Karena dalam menentukan sebuah pilihan itu sangatlah tidak mudah. Pilihan yang diputuskan dalam beberapa detik saja akan mampu membawa dampak besar untuk ke depannya. Jangan sampai waktu yang beberapa detik tersebut dijadikan kambing hitam bila suatu hari nanti terjadi penyesalan.
Dalam sebuah hubungan satu komponen saja sangat berperan, seperti sebuah system. Jika dalam satu system tersebut hilang satu komponen atau tidak lengkapnya komponen-komponen yang dibutuhkan maka system tersebut tidak akan berjalan sebagai mana mestinya. Walaupun bisa berjalan namun belum semaksimal yang idealnya.
Contohnya dapat dilihat pada sebuah system pernapasan kita. Jika paru-paru tidak ada maka pernapasan kita tidak akan lancar atau bahkan tidak bisa bernapas. Begitu pula dalam sebuah hubungan.
Untuk membangun sebuah hubungan yang baik dan bernilai positif sangat dibutuhkan komponen jujur, adil, bijaksana, pengertian, pemaaf, saling percaya, saling menghargai, saling membutuhkan dll. Jika dalam suatu hubungan tidak ada saling percaya atau tidak saling menghargai maka hubungan tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hubungan yang ada tanpa saling menghargai hanya akan menjadi neraka bagi orang yang menjalaninya. Dalam kehidupan ini, meskipun kita sudah mempertahan sebuah hubungan, baik dalam waktu dekat ataupun lama tidak seorang pun yang tahu sampai dimana dapat dipertahankan. Karena hubungan yang sudah ada akan berakhir kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja. Maka dari itu berusahalah untuk selalu mempertahankan hubungan yang telah berjalan. Dengan sedikit garam kejujuran, bawang pujian, jahe penghargaan, santan belaian dan ditambah penyedap pengertian dapat menghasilkan sebuah sajian hubungan yang sedap dan sesuai selera.