Jumat, 19 September 2008

ETIKA, LAIN DULU LAIN SEKARANG


Dalam kehidupan sehari-hari, akhlak, etika, moral dan susila dijadikan prinsip atau aturan hidup manusia untuk menakar harkat dan martabat kemanusiaannya. Semakin rendah kualitas akhlak, etika, moral dan susila seseorang atau sekelompok orang, maka semakin rendah pula kualitas kemanusiaannya. Juga sebaliknya, semakin tinggi kualitas akhlak, etika, moral dan susila seseorang atau sekelompok orang, maka makin tinggi pula kualitas kemanusiaannya.
Untuk melakukan segala tindakan dalam kehidupanpun, akhlak, etika, moral dan susila diikat oleh seperangkat peraturan hidup yang sering kita dengar dengan sebutan norma. Berpedoman kepada norma, segala sesuatunya akan dikaitkan dengan baik atau buruknya tindakan manusia. Misalnya, jika melakukan perbuatan baik seperti menolong sesama, akibat dari perbuatan itu akan mendapat rasa puas dari dirinya dan mendapatkan nilai positif dari masyarakat sekitar. Begitu juga sebaliknya. Seperti seseorang yang merokok dihadapan tamu atau orang yang dihormati. Seharusnya itu tidak dilakukan. Jika tindakan tersebut tetap dilakukan maka akibat dari tidakan itu akan mendapat celaan karena dianggap tidak sopan walaupun merokok tidak dilarang. Atau seorang tamu yang hendak pulang, menurut tatakrama harus diantar sampai muka rumah. Bila tidak, maka akibat dari tidakannya itu juga akan mendapat celaan karena dianggap sombong dan tidak menghormati tamu.
Begitu penting bagi masyarakat kita untuk berakhlak, beretika, bermoral dan bersusila. Ini dianggap sebagai patokan hidup dan pedoman untuk hidup bermasyarakat. Dalam kehidupan bermasyrakat, harus tahu baik buruk akibat yang ditimbulkan dari tindakan sendiri atau sekelompok orang. Penilaian baik buruk tindakan tersebut, dilakukan oleh etika. Etike berperan sebagai komponen bathiniah yang bisa mempertimbangkan bagaimana caranya bersikap etis dan baik, yang biasanya pertimbangan itu timbul dari kesadaran sendiri. Seperti yang dijelaskan oleh Ahmad Amin, bahwa etika itu merupakan ilmu pengetahuan yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dicapai oleh manusia dalam perbuatan mereka, dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat oleh manusia.
Penilaian baik buruknya itu juga tergantung penerimaan pada masyarakat bersangkutan. Jika suatu tindakan dianggap menyenangkan, mendatangkan rahmat, mendatangkan bahagia dan dihargai positif, berarti tindakan tersebut dianggap baik. Begitu juga sebaliknya, jika perbuatan dipandang sebagai tindakan negatif dan bertentangan dengan norma yang berlaku pada masyarakat tertentu maka tindakan itu dianggap sebagai tindakan yang buruk. Untuk itu, etika adalah urutan pertama dalam memahami dan mematuhi norma yang berlaku pada masyrakat tertentu. Karena etikalah yang berperan dalam menentukan sesuatu itu baik atau tidak.
Namun rasanya etika ini makin pudar bagi kehidupan sekarang. Karena etika untuk menilai suatu tindakan sesuai dengan norma yang berlaku semakin kurang. Antara waktu dan nilai etika itu berbanding terbalik. Semakin bertambah berjalannya waktu, nilai etika rasanya semakin kurang. Untuk kehidupan belakangan ini, etika semakin memudar. Contoh kecil lagi kita lihat pada tindakan ketika menelpon seseorang. Semenjak masyarakat diberikan layanan gratis nelpon. Umumnya masyarakat bergadang sampai pagi. Bergadang bukan karena nonton tv atau karena ada siaran langsung sepak bola atau karena ronda malam, tapi karena asyiknya nelpon lewat ponsel. Pemandangan ini dimulai sejak operator telpon seluler berlomba-lomba untuk memberikan layanan telpon gratis. Apalagi jika menelpon dilakukan antara jam 24.00 sampai 05.00.
Dengan layanan komunikasi gratis ini, tidak heran lagi hampir setiap malam banyak orang yang bergadang. Ini bukan saja menggangu pada kesehatan dan kualitas kerja untuk esok harinya namun tindakan seperti ini telah memudarkan etika yang telah ada. Adanya layanan telpon murah dan gratis ini, etika telah dikesampingkan. Jika dulu untuk menelpon seseorang lewat dari jam 21.00 saja, harus berpikir panjang seribu atau dua ribu kali karena dianggap tidak etis. Tapi, rasa tidak etis untuk menghubungi seseorang tengah malam kini sudah biasa dan makin menghilang.
Di sini, kembali ditanyakan etikanya. Semua juga tahu, etika dibutuhkan untuk mengetahui baik burunknya perbuatan. Tapi contoh singkat di atas, apa masih terlihat etika dari masyarakatnya itu sendiri. Kembali ditanyakan, nelpon tengah malam apakah suatu tindakan yang baik atau suatu tindakan yang etis? Karena konsep yang baik itu adalah segala tindakan yang dihargai positif. Telpon tengah malam dianggap sebagian orang sebagai tindakan baik karena masih bisa menerima tindakan itu sebagai tindakan yang positif. Sama-sama menyenangkan dan sama-sama menghargai tindakan itu meski sudah tidak etis lagi. Jika hal kecil dalam menelpon saja sudah mulai diabaikan, apakah untuk etika lainnya juga mulai akan dipudarkan?
Sekarang etika dilihat sebagai sesuatu yang relatif karena sudah bisa berubah-rubah. Jika sama-sama senang dan gembira, tindakan tertentu dianggap baik meski sebenarnya belum begitu. Etika dulu dipandang sebagai sesuatu yang absolut yang berarti tidak dapat ditawar-tawar. Kalau tindakan baik mendapat pujian dan tidakan yang salah mendapatkan sanksi. Tidak tergantung pada ada atau tidaknya seseorang di suatu tempat.
Etika rasanya perlu ditanamkan lagi pada masyarakat yang telah diikat norma. Karena dengan etika semua akan mendapatkan konsep yang sama mengenai penilaian tindakan baik atau tindakan buruk bagi semua masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari atau dalam ruang dan waktu tertentu. Etika dapat mengembalikan tata sopan santun dan aturan yang disetujui masyarakat yang menjalaninya. Untung rugi beretika hanya akan dirasakan oleh masyarakat yang menjalani karena hidup dalam masyarakat yang baik dan menyenangkan. Yaitu dalam kehidupan masyarakat yang berakhlak, beretika, bermoral dan bersusila. Keempat kata ini bukan semata-mata dipengaruhi oleh faktor keturunan, tapi merupakan potensi positif yang dimiliki setiap orang. Untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi positif tersebut, diperlukan pendidikan, pembiasaan, dan keteladanan, serta dukungan lingkungan. Mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat secara terus menerus, berkesinambangan, dengan tingkat keajegan dan konsistensi yang tinggi.(penulis aktif di SKK GANTO UNP)

ANTARA FORMALITAS DAN KESADARAN MORAL



Siapa saja pasti menginginkan hubungan yang baik dan memberi kontribusi salam kesehariannya. Baik hubungan dengan keluarga, teman, guru ataupun dosen, lingkungan sekitas dan hubungan dengan diri sendiri. Setiap hubungan itu pasti mempunyai tujuan tertentu. Seperti hubungan dengan keluarga biasanya mempunyai tujuan memberi dan menyalurkan kasih sayang kepada orang-orang terdekat. Hubungan dengan teman biasanya mempunyai tujuan dapat mencari tempat berbagi di luar keluarga, dan tempat menikmati hari-hari indah bersama orang-orang terdekat.
Begitu pula dengan hubungan dengan dosen atau pun guru yang jelas-jelas mempunyai tujuan. Pertama karena beliau orang yang mendidik kita, kedua berperan sebagai orang tua kedua, ketiga tujuan tertentu dalam hal akademik. Misalnya saja karena menunggu nilai yang akan diberikan guru atau pun dosen setelah seabrek materi yang telah ditranfernya dalam hal belajar mengajar. Lain lagi hubungan dengan diri sendiri, lebih memiliki harapan. Karena dengan memiliki hubungan baik dengan diri sendiri juga bisa memperbaiki dan mempertahankan hubungan dengan orang lain dan lingkungan. Karena segala sesuatunya bisa di mulai dari diri sendiri. Jika hubungan dengan diri sendiri baik, akan bisa mengontrol dan memotivasi agar hubungan dengan orang lain dan lingkungan juga baik.
Ya, untuk dapat menjadi lebih baik dalam hubungan dibutuhkan suatu resep yaitu adanya motivator. Motivator yang dapat menghubungkan bahwa diantara hubungan yang terjalin itu ada kesepakatan yang tersirat. Dapat memberi tanggung jawab, pengertian, rasa hormat dan simpati kepada orang lain. Dengan adanya rasa itu, akan menjalin hubungan yang lebih bermakna.
Seperti hubungan mahasiswa dan dosen. Antara hubungan ini terbagi menjadi dua hubungan. Pertama hubungan formalitas dan kedua yang benar-benar tumbuh dari hati nurani. Hubungan yang sekedar formalitas biasanya menjalani hubungan yang ada dengan mengemban rasa tanggung jawab dan tugas dari jabatan masing-masing. Antara dosen dan mahasiswa ada harapan untuk menjalin hubungan karena pemberian materi kuliah dilanjutkan dengan pemberian nilai. Besar kecilnya tugas dan tanggung jawab dapat mempengaruhi besar kecilnya motivasi baik bagi dosen maupun mahasiswa untuk terus melanjutkan hubungan.
Kedua, hubungan yang benar-benar dari tumbuh karena kesadaran moral untuk mendidik. Hubungan jenis kedua ini sangat berbeda dengan hubungan formalitas. Karena jenis kedua ini tumbuh dari dalam hati dan kesadaran moral seorang pendidik kepada anak didiknya. Hubungan yang terjalin pun tidak hanya karena nilai dari hasil ujian dan jumlah daftar yang tidak kurang dari 80% serta tidak hanya sekedar transfer ilmu. Lebih dari itu, antara dosen dan mahasiswa akan terdapat hubungan yang sangat erat.
Antara dua hubungan ini, hubungan karena kesadaran moral akan lebih bermakna dan tidak kaku dalam menjalaninya. Dengan hubungan yang seperti ini mahasiswa akan benar-benar menganggap hubungan yang terjalin dapat mereka nikmati. Dapat mengadu kepada dosen atau guru sebagai orang tua kedua bagi mereka jika ada permasalahan yang mereka hadapi. Dapat melihat dosen atau guru sebagai orang-orang yang dekat dengan mereka. Karena dalam usia perkembangan akan sangat dibutuhkan perhatian, tuntunan dan control dari orang-orang yang mereka hormati.
Berbeda dengan hubungan yang hanya karena formalitas. Mereka akan kaku dalam menjalaninya. Takut bertanya dan tidak mampu untuk dekat dengan “orang tua mereka sendiri”. Makanya dalam hubungan formalitas dosen terbiasa memperlakukan mahasiswa sebagai orang dewasa yang mengerti tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing. Mahasiswa pun tidak akan dapat berkata apa-apa jika dosennya telah berpetuah, mahasiswa pun tidak akan bisa meninggalkan tanggung jawab yang diberikan dosennya meskipun tidak menyukai apa yang diperintahkan dosennya. Karena tugas dan kewajiban yang diberikan oleh dosen merupakan tanggungjawab yang harus ditunaikan.
Oleh karenanya dalam suatu hubungan sangat dibutuhkan kesadaran moral dan motivasi. Dalam keseharian kita, motivasi yang diberikan meski kecil akan dapat melahirkan semangat besar. Dan besar kecilnya motivasi akan mempengaruhi kuat lemahnya hubungan.