
Huh…
Barusan aku serasa disambar petir. Sebuah pertanyaan singkat ditujukan padaku. Pertanyaan bagi sebagian orang yang berada pada level bawah, bagiku itu pertanyaan yang sangat membuatku tak nyaman. Aku jamin, bagiku pertanyaan itu berada pada level paling atas dan paling bisa membuatku tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa. Seumur-umur, aku tidak ingin mendengar pertanyaan itu, bahkan tak berharap akan terlontar lagi dari siapapun. aku tersentak mendengar pertanyaan level tinggi itu, dan spontan aku jawab “LAGI SIBUK NGURUS SPK”. Tapi saat pelontar pertanyaan berlalu, aku terdiam sesaat di gerbang tua depan kosanku. “APA PANTAS AKU MENJADIKAN SIBUK SEBAGAI ALASAN UNTUK TIDAK MENULIS”? Tapi benar lo, kesibukan lain membuatku lupa (bukan lupa sich, tapi lebih sering tidak bisa) menulis. Saat lagi di jalan, nunggu angkot, nunggu dosen, delele, ada sich niat nulis, bahkan kebanjiran ide. Tapi saat aku terduduk, atau berhenti dari segala aktifitas yang ada, ide-ide itu tetap belum aku tuangkan. Memang terasa lelah, lesu, letoi dan letih (bukan kurang darah lho…). Mondar mandir sana sini cukup menyita waktu dan energy, apa lagi aku punya kebiasaan malas makan. Jadi memang menjadi sangat melelahkan.s Mungkin tak seharusnya menjadikan sibuk sebagai alas an tidak menulis. Aku pikir, aku yang belum bisa bagi waktu. Untuk menjadikan kita tidak berhenti menulis, hanya dengan satu jalan. JADIKAN MENULIS SEBAGAI KEBUTUHAN.
